Simak Kisah Operasi Linud Dai Nippon di Manado, Palembang, dan Kupang

0

Penerjunan di Pelembang

Operasi lintas udara Bala Tentara Dai Nippon di Palembang bertujuan untuk mengamankan kilang dan lading minyak bumi di Sumatera Selatan. Tugas itu dilakukan oleh Brigade Para-2 AD Kekaisaran Jepang. Mereka mengenakan pakaian dinas lapangan berwarna kentang mentah dari bahan gabardin mirip pkaian tempur Pasukan Para Jerman, emblem bundar dihiasi perpaduan antara parasut dan bintang lima.

Pada 14 Februari 1942 pukul 07.30 sebanyak 270 Pasukan Para AD di pimpinan Mayor Niihara diterjunkan di Palembang dan lapangan terbang Talangbetutu dengan menggunakan 34 pesawat Ki-57 yang bertolak dari lapangan terbang Kahang, Malaya. Seluruh pesawat transport yang digunakan berasal dari gabungan pesawat tiga skadron angkut AD yaitu Wing-1, Wing-2 dan Wing-3 di bawah pimpinan Mayor Shimbara.

Selain itu juga terdapat tujuh pesawat Ki-56 untuk menerjunkan perbekalan. Operasi linud itu dikawal oleh unsur pesawat Wing Pembom-98 serta pesawat Wing Tempur-56 dan Wing Tempur-64.

Pesawat tempur Hurricane Angkatan Udara Kerajaan Inggris Inggris (RAF) yang mempertahankan Sumatera tidak berhasil menyergap pesawat Kekaisaran Jepang itu, akibat lemahnya telekomunikasi dan kurangnya data intelijen. Selain itu sejak 12 Februari sebagian besar pesawat RAF, RAAF dan Belanda dari Singapura dan Pelembang telah diungsikan ke Lanud Cililtan, Jakarta dan Semplak, Bogor.

Dua jam setelah penerjunan gelombang pertama, 60 Pasukan Para di bawah pimpinan Letnan Hirose Nobutaka diterjunkan langsung di Plaju untuk mengamankan kilang minyak bumi. Mereka bertolak dari lapangan terbang Kluang, Malaya, dengan menggunakan 12 pesawat Ki-57.

Serangan mendadak itu menyebabkan pihak Sekutu tidak sempat melakukan bumi hangus, sehingga kilang minya Palju milik BPM jatuh ke tangan Jepang dalam keadaan utuh.

Namun demikian kilang minyak bumi milik Stanvac di Sungai Gerong sempat dibumi hanguskan. Pasukan Nobutaka kemudian berhasil merebut sasaran-vital lainnya. Penerjunan gelombang ketiga di Talangbetutu terdiri dari kelompok brigade berkekuatan 30 orang dan dipimpin oleh Kolonel Seiichi Kume, Komandan Brigade Para-2.

Kolonel Kume yang langsung memimpin operasi di lapangan, semakin memantapkan gerakan tempur pasukannya.
Pada 15 Januari menjelang tengah hari, Letnan Ryo Morisawa memimpin penerjunan terakhir terdiri dari 94 orang dengan menggunakan 19 pesawat angkut untuk perkuatan.

Pada hari kedua lepas tengah hari itu, Resimen Infanteri-229 Divisi Infanteri-38 AD tiba di Palembang lewat sungai Musi, sehingga menambah kekuatan pasukan penyerbu menjadi sekitar 3.000 orang.

Setelah berlangsung perlawanan selama satu setengah hari, akhirnya pasukan Sekutu yang terdiri dari Belanda, Inggris dan Australia menyerah. Pada hari ketiga Brigada Para-2 dan Resimen Infanteri-229 melakukan Victory Parade sekalian untuk show of force di tengah kota Palembang. Pihak intelijen Belanda memperkirakan bahwa operasi linud Jepang berikutnya akan dilakukan di Cililitan.

Sumatera mempunyai arti sangat penting untuk menunjang kebutuhan minyak bumi dalam negeri Jepang maupun menunjang kebutuhan roda peperangan. Dengan demikian seusai jatuhnya Palembang, Jepang segera menguasai kilang dan ladang-ladang minyak yang tersebar di Sumatera, karena Jepang telah memiliki data lengkap tentang seluk-beluk pernyakan di Sumatera.

Dalam melakukan rehabilitasi terhadap pabrik pengilangan dan ladang-ladang minyak bumi yang dibumibanguskan, Jepang mengerahkan para bekas pegawai perusahaan perminyakan dan menggunakan tenaga kasar yang diambil dari tenaga kerja paksa romusha.

Operasi perminyakan ditempatkan di bawah penguasa militer setempat, yaitu Divisi-38 sebagai ujung tombak Tentara-XXV di Sumatera.

Sebagai gambaran, kebutuhan minyak bumi Jepang pada 1940 atau sebelum perang sebesar 24 juta barrel yang terdiri dari dua juta barrel hasil produksi dalam negeri dan 22 juta barrel dari import. Akibat embargo pihak Sekutu, pada 1941 Jepang hanya dapat mengimport 3,1 juta barrel. Salah satu upaya mencukupi kebutuhan minyak bumi, jalan yang diambil ialah menyerbu Asia Tenggara.

Pada awalnya upaya itu berhasil baik. Pada 1942, Jepang mampu meningkatkan jumlah produksi minyak bumi di bekas konsesi Caltex di Sumatera Tengah menjadi 108 juta barrel.

Padahal produksi minyak bumi di seluruh Hindia Belanda pada tahun 1939-1941 rata-rata hanya 62 juta barrel pertahun. Jumlah 62 juta barrel itupun sudah merupakan produksi terbesar di Asia Tenggara.

Pada 1942, 40 persen produksi minyak bumi di Asia Tenggara yang dikirim ke Jepang berhasil mencapai tujuan. Dalam 1943 jumlah itu menurun menjadi 15 persen dan pada 1944 menurun lagi menjadi lima persen.

Bahkan pada 1945 sama sekali tidak ada kiriman minyak bumi dari Asia Tenggara yang berhasil mencapai Jepang. Hal itu disebabkan kapal-kapal tanker yang mengangkutnya dihancurkan oleh Sekutu di jalur laut menuju ke Jepang.

Penerjunan di Kupang

Kupang direbut oleh Jepang dari tangan Sekutu untuk menghindari agar ibu kota Timor Barat yang memilik langanan terbang Penfui dan pelabuhan laut Tenau itu tidak digunakan sebagai pangkalan aju oleh pasukan Sekutu dari Australia.

Sebaliknya Jepang ingin menggunakan Timor Barat sebagai pengkalan aju untuk menyerang Australia. Pelaksanaan perebutan sasaran yang mempunyai nilai strastegis itu dilakukan pada 20 Februari 1942 dengan pendaratan amfibi di tiga titik pantai selatan sepanjang sembilan kilometer dan operasi linud oleh 630 anggota Batalion Yokosuka-3 di bawah Letkol Koichi Fukumi sebagai komandan. Operasi lintas udara itu untuk melindungi pendaratan amfibi yang diperkuat tank Type 95.

Sesaat setelah matahari terbit penerjunan gelombang pertama terdiri dari 308 orang anggota Yokosuka-3 menggunakan 25 pesawat Mitsubishi G3M Skadron Angkut-1001 Angkatan Laut yang bertolak dari Kendari. Pada waktu itu para penerbang AU Australia (RAAF) telah diungsikan dari Timor Barat oleh kapal selam AS, sehingga operasi linud itu tidak mendapat perlawanan dari udara. Dua Drop Zone (DZ) yang dipilih di Usua dan Penfui.

Penerjunan di Usua bertujuan untuk memotong jalur logistik dari gudang makanan dan amonisi serta fasilitas kesehatan bagi pasukan Australia. Pasukan Yokosuka-3 yang memasuki kampung Bubua pada pukul 10.50 dihadang oleh satu peleton pasukan Australia, tetapi mereka segera dipukul mundur.

Di tempat lain Pasukan Para Infanteri AL itu mendapat perlawanan sengit, termasuk serangan mortir. Korban berjatuhan, tetapi mereka terus bergerak maju.

Pada hari berikutnya 185 anggota Batalion Yokosuka-3 diterjunkan dari 18 pesawat G3M di Babau, kemudian bergerak ke selatan. Sementara itu pasukan Infanteri AL yang melakukan pendaratan amfibi telah berhasil merebut pelabuhan Tenau dan menguasai kota Kupang. Akhirnya pasukan Infanteri Angkatan Laut yang melakukan pendaratan amfibi linked-up dengan batalion Yokosuka.-3.

Pada 20 Mei 1942 Batalion Yokosuka-1 ditarik ke pangkalan induknya di Jepang dan Yokosuka-3 menyusul akhir tahun. Sementara itu Batalion Yokosuka-2 masih tetap bertugas di dalam negeri.

Setelah penerjunan Pasukan Para di Kupang, tidak ada lagi operasi lintas udara yang dilancarkan Batalion Para AL maupun Brigade Para AD Kekaisaran Jepang. Hal itu disebabkan Jepang terlambat dalam membentuk Pasukan Para. Pembentukannya baru dimulai sekitar empat bulan sebelum pecah PD II.

Sebagai gambaran, militer Jerman telah merintis pembentukan Pasukan Para sejak 1936 dan Rumania 1937. Sedangkan Rusia, Polandia, Prancis, Spanyol dan AS telah membentuk Pasukan Para jauh lebih dahulu dibanding Jepang. Selain itu Jepang juga terlambat dalam memproduksi pesawat angkut Para dalam jumlah besar.

Salah satu faktor penyebab besarnya kebutuhan adalah kapasitas angkut pesawat militer Jepang hanya 9-11 Pasukan Para. Setelah PD II dimulai, kebutuhan pesawat angkut pasukan para tergeser oleh kebutuhan lain berskala prioritas lebih penting.

 

Teks: hendro subroto/ beny

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply