Simak Kisah Operasi Linud Dai Nippon di Manado, Palembang, dan Kupang

Pembentukan pasukan lintas udara (linud) Jepang dimulai setelah pasukan linud Jerman melakukan serbuan kilat di daratan Eropa. Serbuan linud diperkuat serbuan udara dengan pesawat glider. Keberhasilan operasi linud Jerman Mei 1940 itu sangat menarik perhatian para perwira tinggi Bala Tentara Dai Nippon yang sedang mempersiapkan diri terjun dalam Perang Dunia II.

Sebagai tindak lanjut, instruktur Sekolah Para Jerman di Stendal yang didirikan pada 1936 didatangkan ke Jepang untuk memberikan pelatihan bagi pasukan infanteri Angkatan Darat.

Pada 20 September 1941, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) membentuk satu batalion Pasukan Pendarat Khusus berkekuatan 520 di Distrik AL Yokosuka. Pasukan ini dinamakan Pasukan Pendarat Khusus AL Yokosuka-1.

Pada dasarnya Batalion Yokosuka-1 adalah Batalion Infanteri AL (Marinir) yang dilatih sebagai Pasukan Para. Pada 11 dan 12 Januari 1942, Yokosuka-1 yang menjadi pasukan penyerbu Sasebo pada Armada Gabungan Timur diterjunkan di lapangan terbang Langoan, di selatan Manado untuk mengamankan pendaratan amfibi di ibu kota Sulawesi Utara itu.

Batalion Yokosuka-2 dengan 746 anggotanya mengikuti pelatihan Sekolah Para di tempat yang sama sejak 15 Oktober 1941, kemudian mendapat tugas sebagai Pasukan Pertahanan Pangkalan di dalam negeri.

Batalion Yokosuka-3 yang terdiri dari 849 orang juga mengikuti Sekolah Para pada 20 November 1941. Mereka diopersikan di Filipina, kemudian didaratkan dari laut di Sulawesi Tenggara untuk merebut lapangan terbang Kendari.

Pada 20 dan 21 Februari 1942, Yokosuka-3 diterjunkan di Timor Barat dari Kendari sebagai pangkalan aju. Tugasnya merebut lapangan terbang Penfui (El Tari). Dalam doktrin Pasukan Para AL disebutkan, penggunaannya untuk mendukung operasi amfibi sekaligus merebut pangkalan yang dapat digunakan sebagai pangkalan aju bagi kekuatan udaranya.

Dua resimen Para AD Kekaisaran Jepang sebagai Resimen Serbu mendapat pelatihan para oleh instruktur Jerman di lanud AD Distrik Kanto. Doktrin pasukan para AD mirip doktrin Pasukan Para Jerman yaitu digunakan sebagai ujung tombak penyerangan seperti dilakukan Jerman dalam penyerbuannya ke Denmark, Norwegia dan pulau Creta.

Dalam PD II, Resimen Para-1 ditempatkan di lapangan terbang Haikow, Hainan di China sebagai pasukan cadangan, sedangkan Resimen Para-2 dioperasikan sebagai ujung tombak penyerangan dalam merebut Palembang pada 14 dan 15 Februasi 1942. Ketiga batalion Yokosuka AL juga mendapat pelatihan dasar infanteri di pangkalan AD di Kanto.

Jika dalam Pendidikan Dasar Para di Batujajar dan Sekolah Para AURI di Margahayu, Bandung, siswa Para dilatih terjun dari ketinggian 900 kaki, siswa Sekolah Para Yokosuka dilatih terjun dari ketinggian rendah, yaitu antara 500–300 kaki.

Penerjunan pada ketinggian rendah memiliki nilai tambah, yaitu mempersingkat waktu pasukan terapung di udara menjadi kurang dari 30 detik yang berarti dapat memperkecil kerawanan.

Selain itu pasukan dapat mendarat saling berdekatan, sehingga tiap-tiap stik mudah berkumpul dan membentuk formasi penyerangan dengan cepat. AD mengambil standar ketinggian penerjunan 600 kaki baik dalam latihan maupun dalam operasi linud. Penerjunan pada ketinggian di bawah 700 kaki, pasukan tidak memerlukan parasut cadangan.

1 2 3 4Next page

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: