Penerjunan di Manado
Pendaratan amfibi di Manado oleh Armada Gabungan Timur pada 11 Januari 1942 dilakukan bersamaan waktu dengan pendaratan amfibi Armada Gabungan Tengah di Tarakan. Sebanyak 1.600 pasukan yang didaratkan di Manado didukung operasi linud oleh dua kompi atau setengah batalion berkekuatan 324 anggota Yokosukan-1 di bawah pimpinan Letkol. Toyouki Horiuchi.
Mereka bertolak dari Davao, Filipina, dengan menggunakan 28 pesawat Mitsubishi G3M type 96 Skadron Angkut 1001, kemudian diterjunkan dari ketinggian rendah di lapangan terbang Langoan yang terlertak di sebelah selatan Manado.
Kompi ini bertolak dari Davao, Filipina, menuju Langoan yang terletak di sebelah selatan Manado. Anggota Yokosuka mengenakan pakaian dinas lapangan berwarna hijau pucat, wing legendaris berbentuk layang-layang emas mirip wing penerbang dan emblem budar di lengan kiri dengan gambar persilangan antara parasut dan jangkar serta di bagian atas dihiasi dengan sekuntum bunga sakura.
Penerjunan Pasukan Para pukul 09.00 itu mengejutkan pucuk pimpinan militer Belanda di Minahasa beserta 1.500 anggotanya yang sejak pukul 05.00 telah dikejutkan pendaratan amfibi di Manado. Pasukan reguler Kerajaan Belanda, KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger), dengan senjata sederhana seperti senapan Scotti-Breda, Tommy-guns dan MP28 berupaya melawan dua kompi Yokosuka-1. Mereka dengan mudah dilumpuhkan.
Sumber Sekutu mehebutkan bahwa sebuah pesawat angkut pasukan dan sebuah pesawat angkut perbekalan ditembak jatuh dalam operasi lintas udara itu. Kontener berisi senapan mesin ringan, amonisi dan logistik yang ditwerjujnkan dengan cepat dapat dikumpulkan.
Dalam waktu 30 menit dua kompi Yokosuka-1 berhasil menguasai lapangan terbang dan menggagalkan serangan balas Belanda. Pesawat tempur AL segera mendarat di Langoan untuk melindungi gerakan tempur pasukan pendarat amfibi di Manado.
Keesokan harinya 185 anggota Yokosuka-1 diterjunkan di Langoan dengan menggunakan 18 pesawat G3M untuk perkuatan pertahanan pangkalan. Dalam perkembangan selanjutnya Langoan digunakan sebagai pengkalan aju untuk menyerang Kendari.
Pada 24 Januari Kendari berhasil direbut dan digunakan sebagai pangkalan aju untuk merebut Ambon yang dilakukan oleh 3.500 pasukan yang didukung Satuan Tugas Kapal Induk Soryu dan Hiryu.
Kendari juga digunakan sebagai pangkalan aju untuk melancarkan operasi lintas udara ke Kupang. Pada 10 Februari 5.000 pasukan Armada Gabungan Tengah yang digerakan dari Tarakan berhasil menguasai lapangan terbang dan kilang minyak bumi di Balikpapan.