Kolonel (Pur) PGO Noordraven, Kisah Bomber Indo yang Memilih Bergabung dengan AURI

0

Karena Belanda sedang krisis penerbang, Noordraven pun dirayu agar bersedia mengikuti proses selanjutnya. “Pokoknya besok kamu menghadap komandan, bilang saja bahwa kamu memang suka jadi penerbang dan ingin dari kecil,” rayu perwira itu setengah memaksa.

Maret 1942, Noordraven dan ratusan pemuda lainnya dikirim ke Tasikmalaya dan selanjutnya ke Cilacap. Dari sini mereka dinaikkan ke kapal untuk diangkut ke Australia.

“Bau kapalnya setengah mati, saya mabuk. Jadi begitu naik, saya sudah tidak sadar. Bagaimana kapal di serang pesawat Jepang di perjalanan, dibom, saya tidak tahu karena saya tidur. Kapal berlabuh di Freemantle (Perth),” bebernya.

Setelah sekian hari di wilayah bagian barat Australia ini, sebuah pengumuman ditujukan ke mereka: Semua bersiap, besok akan terbang ke Adelaide! “Itu pengalaman terbang pertama saya.”

Semua duduk di pesawat tanpa kursi selama lima jam, mengikuti penerbangan yang hening dan membingungkan para lajang itu. Di antara penumpang, Noordraven mengenal seorang bernama O.G Ward yang kemudian juga menjadi penerbang seperti dirinya.

Jauh hari setelah perang, Ward yang dikenal Noordraven piawai bermain piano dan Hawaiian, menulis buku De Militaire Luchtvaart Van Het KNIL In De Jaren 1945-1950 (1988). Nama Noordraven sebagai flight crew juga disebut sejak Oktober 1944 dimana ia masuk Flight 4.

Sepanjang penerbangan ke Adelaide, Noordraven tak henti-hentinya memikirkan nasibnya yang akan menjadi pilot. Menjadi penerbang? Terbang begitu saja ia sudah mabuk.

Pesawat pun mendarat. Akhirnya di Australia para calon kadet hanya transit. Rencana latihan terbang di Australia dibatalkan karena memang sudah tidak tersedia lagi bahan bakar, dan balatentara Jepang semakin merangsek ke Timor.

Keputusan cepat diambil petinggi Sekutu dengan memindahkan latihan terbang ke Jackson di Amerika Serikat. Berkejaran dengan mobilisasi pasukan Jepang, mereka pun diberangkatkan ke Amerika menggunakan kapal pesiar yang disulap menjadi angkutan umum.

“Waktu Doolittle attack di Tokyo, kami sedang di laut dan dengar di radio. Dari Melbourne, kapal kami sempat dikawal sebentar oleh kapal perang sebelum kemudian dilepas. Kami sekitar 800 orang berlayar tiga minggu, dikejar-kejar Jepang. Itu kapal pesiar yang disulap jadi kapal umum, satu kabin empat row, padatnya minta ampun,” kata Noordraven.

Setelah berlabuh di San Fransisco, mereka diangkut menggunakan kereta api ke Jackson terus ke Leavenworth untuk mengikuti primary training. Rampung di Leavenworth, mereka kembali ke Jackson untuk melanjutkan ke tahap basic training hingga operation.

Di Jackson, tempat di mana para calon kadet mengikuti check flight, semacam attitude test. “Saya muntah-muntah dan harus bersihkan sendiri muntahan itu. Tapi pelan-pelan saya mulai enjoy,” ujarnya.

Primary training menggunakan pesawar PT-19 Fairchild, selanjutnya pada tahap basic training menggunakan BT-13 Valiant (seperti PT-9 tapi fix landing gear), dan tahap advance training menerbangkan pesawat Lockheed-12.

“Saya dapat wing sudah 500 jam, itu betul-betul training keras. Itu pun saya masih sersan penerbang, belum penerbang operasional,” ucap Noordraven.

Tahap primary harus mereka lalui selama 80 jam, basic selama 130 jam, dan advance selama 190 jam. Setelah itu para penerbang ini mengikuti konversi ke pesawat pemburu atau pembom B-25.

Dari 800 orang yang berangkat, awalnya semua adalah aspirant (calon) penerbang. Namun tentu tidak semua bisa menjadi penerbang meski kebutuhan penerbang sangat tinggi. Begitulah, kemudian ada yang menjadi teknisi, gunner, navigator, dan sebagainya.

Yang menjadi penerbang akhirnya hanya 200 orang, sementara selebihnya menjadi pendukung termasuk RJ Ismail yang menjadi wireless operator. Pasca KMB 1950, Letnan Udara R J. Ismail bergabung dengan AURI dan menjadi penerbang B-25 bersama Noordraven.

Mereka yang 200 orang ini usai wing day, disebar ke sejumlah skadron bomber dan fighter. “Kami diberangkatkan untuk menghadapi Perang Pasifik, terutama dari navy utk Perang Eropa. Fighter KNIL untuk Pasifik sedangkan fighter dari navy untuk Eropa dan Kolombo. Kami berasal dari berbagai kebangsaan selain Belanda, juga dari Eropa, Kanada, Amerika, dan Australia,” tuturnya.

Pendidikan akhir mereka selesaikan di Centerfield di dekat Florida. Di sini mereka memperdalam ilmu terbang low level dan menembak khusus untuk penerbang.

Akhirnya para lajang ini meninggalkan Amerika pada 1943 untuk menyongsong perang di dua benua berbeda. Bersama kepulangannya ke Australia, kelompok pemboman langsung membawa B-25 Mitchell alias ferry flight.

Mereka sempat berdebat karena akan terbang selama 12 jam dari San Fransisco ke Hawaii. Miskin pengalaman, muda, dan hanya bermodal ngotot, akhirnya Noordraven dan belasan rekannya memilih terbang feri membawa 10 pembom B-25 yang masih kinyis-kinyis.

Sejumlah persiapan dan dimodifikasi dilakukan terhadap pesawat untuk alasan keamanan terbang. Bagian-bagian yang dianggap akan menimbulkan drag dan berpotensi memboroskan bahan bakar, disingkirkan seperti turret.

Mereka sangat yakin mampu melaksanakan terbang feri, karena selama pendidikan terbang sudah mengikuti semua bentu latihan termasuk terbang malam. Penerbangan ke Hawaii berlangsung aman meski satu pesawat mengalami kecelakaan.

“Kami take off dari Hawaii sekitar jam 10 malam, saya berdua dengan Merkelbach di satu pesawat,” ujarnya.

Hampir tiga minggu mereka menunggu di Hawaii sebelum kembali terbang ke Australia. Di Hawaii pula semua bagian eksternal pesawat yang semula dilepas untuk alasan penghematan, kembali dipasang.

Seingat Noordraven, mereka mendarat lagi di Christmas Island untuk istirahat beberapa hari, sebelum kembali terbang ke New Caledonia dan berakhir di Canberra. “Canberra was our training base.” Dari sini mereka berpencar.

Salah satu kenangan di Hawaii yang masih diingat Noordraven adalah kelucuan temannya yang orang Ambon.

“Anak Ambon sebagai wireless operator. Namanya Thomas Owa, ia jago main musik Hawaii, dan kalau main musik sampai suntuk hingga orang Hawaii sendiri nyerah. Saat pendidikan, ia nikah dengan orang Amerika dan punya anak namanya Cinta, usai perang ia tidak kembali ke sana.”

Keadaan perang menjadikan semua serba terbatas dan seadanya. Begitu turun dari pesawat di Canberra, setiap orang yang membawa kopor harus segera melapor.

“Kalian dapat tenda, jalan terus, nanti ke kanan, di situ ada tenda. Bisa lihat, gampang,” begitu arahan petugas penyambut.

Mereka pun berjalan mencari tenda dimaksud yang ternyata belum didirikan namun nomornya betul sesuai yang diterima setiap orang. Siapa yang harus memasang? Ya pasang sendiri. “Saya pasang berdua teman namun hujan mulai turun, akhirnya kami basah kuyup, biasa dalam perang waktu itu.”

Pesawat dan kru baru ini diperkirakan sampai di Australia pada September 1943. Mereka menjadi napas baru bagi Skadron 18 yang sudah menderita karena banyak kehilangan pesawat dan kru selama perang.

Noordraven sendiri menetap di Batchelor, di sekitaran Canberra.

“Mendekati penyerahan Jepang, saya minta diperpanjang waktu hingga saya paling lama di Batchelor. Saya kemudian terbang ke Balikpapan untuk menyiapkan pangkalan di sana, yang disiapkan jika perang usai sebagai tempat persiapan ngebom Surabaya,” jelasnya.

Selama menjalankan misi Perang Pasifik, Letnan PGO Noordraven mendapat callsign “Drunken Dog”, meski diakuinya hanya sebentar digunakannya. “Pesawat pertama saya diberi nose art dengan tulisan Shangrila,” katanya.

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply