Kolonel (Pur) PGO Noordraven, Kisah Bomber Indo yang Memilih Bergabung dengan AURI

0

Menurut Noordraven, operator bom sight tugasnya adalah memerintahkan penerbang saat persis berada di atas target. Ia pun mencoba menjelaskan bentuk manuver yang dilakukan sebelum bombing. Dijelaskannya, saat mendekati target pola terbang dilakukan secara zig-zag dengan ketinggian naik-turun.

Namun sekitar dua-tiga menit dari target menit, pesawat harus terbang lurus dengan terus melakukan koreksi posisi hingga lurus mengikuti saat bombaway. Bomb sight ada di pesawat leader dan hanya satu. Pesawat lain tinggal mengikuti.

Begitu bomb doors di pesawat leader terbuka, navigator di belakang akan melihat dan juga akan segera membuka pintu bom.

Ketika kemudian memilih menjadi perwira AURI pasca Konferensi Meja Bundar 1950, kenangan misi pemboman Isuzu itu kembali dialaminya saat berada di Jepang.

Saat itu Noordraven bersama KSAU Marsekal Suryadarma dan delegasi Indonesia lainnya, berangkat ke Jepang untuk mengurus pampasan perang Jepang di Indonesia. Banyak kejadian unik dialaminya di Jepang.

Seorang temannya di Jepang yang dijumpainya, setengah berteriak mengatakan begini. “Itu komandannya AU bukan Suryadarma, tapi letnan KNIL bekas Belanda, Noordraven,” kenang Noordraven tersenyum.

Ia melihat raut muka Suryadarma tidak senang, agak tersinggung. Tapi Noordraven tidak heran karena memang begitulah gaya temannya itu.

Pada suatu hari ia diundang sebuah perusahaan Jepang (Siito). Dalam kesempatan itu Noordraven sempat ngobrol dengan orang Jepang yang katanya pernah tugas di Indonesia. Nah, seorang lainnya yang semula diam tiba-tiba angkat bicara. “You were a pilot,” kata pria Jepang ini. Tentu saja dijawabnya ya, dengan mudah.

“Terbang pesawat apa,” tanyanya lagi.

“B-25,” jawab Noordraven pendek. Diam sejenak, pria itu lalu berteriak.

“Wow, Belanda ya, Belanda ya,” katanya surprise. Lalu mereka tertawa bersama.

Pria itu lalu bercerita tentang penyerangan kapal Isuzu di Kupang. “You were in the air,” tanya Noordraven mulai penasaran. Benar saja. Ternyata pria ini adalah mantan penerbang tempur Jepang yang saat itu bertugas mengawal gugus tempur Isuzu.

Karena melihat jumlah pesawat pembom B-25 yang datang lebih banyak dan kalau dihadapi sama saja dengan bunuh diri, maka ia dan rekannya memilih terbang di atas formasi B-25 tersebut.

“Ia mengaku tidak berani turun karena kami banyak. Lalu kami minum sake bersama sambil tertawa,” tutur Noordraven menceritakan pengalamannya.

Skadron 18 NEI dibentuk di RAAF Station Canberra pada 4 April 1942, dibawah komando operasi Wing 79 AU Australia. Dalam kerjasama ini, Belanda bertanggung jawab menyiapkan penerbang dan pesawat. Umumnya penerbang berkebangsaan Belanda, sedang kru darat umumnya orang Australia.

Saat dibentuk Skadron 18 terdiri dari 242 personel Belanda dan Jawa serta 266 orang Australia. Pesawat dicat dengan bendera Belanda. Skadron menerima lima B-25 pertama pada April 1942.

Jadi penerbang
Noordraven yang biasa dipanggil Ott, tidak menyangka akan menjalani kehidupan di ruang sempit kokpit sebagai penerbang tempur. Semula ia hanya ingin menjadi orang biasa, seorang petani.

Ott lahir di Cimahi, Bandung pada 15 Desember 1921 dari ayah seorang Belanda dan seorang bidan keturunan Ambon dengan nama Humbertina Frausina.

Sampai suatu hari, takdir mengubah jalan hidupnya. “Saya kesasar jadi penerbang,” akunya.
Karena suasana perang, sejumlah pemuda yang terafiliasi dengan Belanda di sekitaran Bandung dimobilisasi untuk perang, tak terkecuali Noordraven.

Ia pun menjadi milisi sejak Jepang menabuh genderang perang. Ott ditempatkan di sekolah montir di Andir, Bandung. Hampir setiap hari ia mendengar sirine menggemar yang menandakan bahaya atau pesawat akan mendarat.

“Kalau pesawat mendarat, kelihatannya pilot-pilotnya semaput karena ditembaki terus oleh Jepang. Waktu itu Belanda betul-betul kekurangan penerbang,” katanya.

Lalu ada rumor bahwa para milisi akan di-keur (seleksi) untuk dijadikan penerbang. Termasuk Noordraven mengikuti keur di Andir. “Selamat Ott, kamu jadi penerbang,” ujar perwira penguji suatu hari kepadanya.

“Ah, saya jadi penerbang, nggak mau, saya mau jadi petani,” jawab Ott.

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply