Kolonel (Pur) PGO Noordraven, Kisah Bomber Indo yang Memilih Bergabung dengan AURI

0

Menjadi AURI
Banyak pengalaman dialami Noordraven selama menjadi penerbang NEI.

Hari-harinya mulai diisi dengan latihan terbang dan orientasi medan di Canberra. Meski Jepang mulai melemah, Noordraven masih sempat ditugaskan ke Merauke bersama B-25 untuk mendukung pasukan darat Sekutu.

Pesawat Zero Jepang yang masih berkeliaran sungguh menakutkan, karena itu penerbangan ke Merauke dilakukan dengan menghindari sapuan radar Jepang.

Mereka terbang rendah sekali, on the deck. Selama beroperasi di Merauke pun, penerbangan selalu dilakukan di ketinggian rendah dengan check point asap. Baik saat memberikan bantuan tembakan maupun mengirim bantuan logistik.

“Pokoknya asal lihat asap, kami drop. Ternyata itu dapur, ha ha ha.”

Dari Merauke, ia kembali ke Canberra, lalu ke Darwin hingga perang berakhir untuk kemudian digeser ke Balikpapan.

Ketika di Merauke itu pula Noordraven pernah mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawanya. Keisengan dan sifat muda lah yang membuatnya bertindak ceroboh, dan diperparah oleh maksud becanda dari rekannya sesama penerbang.

Hari itu Ott dan Merkelbach mendapat misi untuk mengintai aktivitas Jepang dari udara. Mereka pun terbang di antara gunung dengan ketinggian sedang. Maksudnya iseng dan karena bosan di kokpit, Noordraven membuka jendela pesawat dan mengeluarkan tangannya. Bayangkan anda di mobil mengeluarkan tangan.

Rupanya terasa asyik, ia tambah berani dengan mengeluarkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak bersama temannya. Belum puas sampai di situ, ia makin mengeluarkan anggota badannya hingga mendekati pinggang.

“Tolong pegang tangan dan kaki saya ya,” teriaknya kepada navigator. Itu dilakukannya berkali-kali.

Melihat aksi temannya, Merkelbach dongkol di dalam hati karena khawatir bahaya yang akan menimpa. Ia pun diam-diam menukikkan hidung pesawat dengan maksud ngagetin temannya. Tapi apa yang terjadi?

Karena tidak menyangka pesawat mendadak menukik, Noordraven nyaris terlempar keluar jika tidak dipegang teman navigatornya. Sambil gemeteran, ia marah sejadi-jadinya kepada Merkelbach yang sudah menarik lagi tomgkat kemudi.

“Saya bawa dia ke belakang, saya hantam dia,” kata Noordraven menceritakan kekesalannya.

Mungkin beruntung, Noordraven tak lupa kenangannya pernah menjadi kopilot salah satu ace Belanda, A Hagers. Penerbang yang juga dari Skadron 18 ini, pernah tertembak di atas Kupang namun berhasil kembali dan mendarat di lapangan terbang Truscott dengan ratusan bolongan di badan pesawatnya.

“Dia kalau terbang suka bawa anjing,” kenangnya soal rekannya yang paling benci dengan orang banyak omong. Dalam catatan Noordraven, Hagers juga pernah dikejar pesawat Jepang hingga emergency landing dengan Glenn Martin B10 di daerah Bekasi. Dia membuat puluhan raid.

Usai perang, Hagers tinggal di Amerika dan membuka usaha aerial spray. Penerbang hebat ini jatuh dan tewas dengan pesawatnya.

Setelah Skadron 18 dibubarkan oleh Australia pada 25 November 1945 dan dialihkan kepada Belanda terhitung 15 Januari 1946, Skadron ini dipindahkan ke Cililitan sejak 9 Maret 1946.

Pada masa inilah, sepertinya, Noordraven mendapat misi khusus menerbangkan Jenderal Simon Hendrik Spoor, panglima militer Belanda terakhir di Indonesia dan Pangeran Bernhard.

Misi pertamanya adalah mengantarkan Jenderal Spoor dari Cililitan ke Belanda menggunakan pembom B-25. Jenderal Spoor mendadak dipanggil untuk segera mungkin ada di Amsterdam.

Setibanya di Belanda, Spoor mendapat perintah dari Pangeran Bernhard untuk menjemputnya di Inggris dan menerbangkannya ke Belanda. “Jenderal Spoor lalu memerintahkan kami menjemput Pangeran,” ucap Noordraven.

Misi menerbangkan Jenderal Spoor ke Belanda diberikan kepada Merkelbach dan Noordraven. Namun saat Merkelbach diperintah lagi menjemput Pangeran Bernhard, ia kembali memilih sahabatnya sesama dari Bandung ini sebagai pilot kedua.

“Waktu diperintahkan Spoor jemput Princes, dia butuh second pilot, ya, dia pilih saya. Pilot lain ribut karena kami yang termuda, masa yang jemput pilot muda,” Noordraven menceritakan kekesalan para penerbang senior.

Usai Perang Pasifik yang diakhiri dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh pembom B-29 Enola Gay milik Amerika Serikat, kegiatan Skadron 18 pun mulai berkurang. Di Cililitan tugas mereka lebih banyak kepada mendukung tentara Belanda menghadapi Perang Kemerdekaan menghadapi pejuang Republik.

Letnan Noordraven kemudian lebih banyak menerbangkan pesawat angkut C-47 Dakota dan menjadi instruktur penerbang di Kalijati menggunakan pesawat Piper Cub.

Diakhir masa penjajahan Belanda, Skadron 18 tercatat sebagai skadron terakhir yang diserahkan kepada Indonesia untuk kemudian dibubarkan pada 26 Juli 1950. Selama Perang Dunia II, Skadron 18 NEI menerbangkan lebih 900 sorti tempur, kehilangan 102 penerbang termasuk 25 berkebangsaan Australia.

Total 4.000 personel dari 38 kebangsaan pernah bertugas di bawah bendera Skadron 18 selama delapan tahun keberadaan skadron.

Pasca memilih bergabung dengan AURI (TNI AU), Kolonel (Pnb) Noordraven pernah menjabat Komandan Lanud Halim Perdanakusuma serta menjabat sekaligus komandan Skadron Udara 1, 3, dan 4.

Setelah Komando Group Komposisi alias KGK (sekarang Koopsau) terbentuk, Noordraven tercatat sebagai komandan pertama.

Pada 1950-an, Kapten Noordraven aktif melaksanakan operasi penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di wilayah Kendari dan Ambon menggunakan pembom B-25. Saat itu boleh dikatakan AURI dalam kondisi krisis penerbang setelah sejumlah perwira keluar dari AURI.

Sehingga Noordraven menjadi satu dari segelintir penerbang yang beroperasi saat sejumlah konflik terjadi di dalam negeri.

Noordraven pun menjadi satu-satunya bomber dari palagan Perang Pasifik yang masih hidup sampai awal tahun 2000. Sang istri, almarhumah Julia CH Noordraven pernah menceritakan penghormatan dari Angkatan Udara Belanda kepada Noordraven saat mereka berdua menghadiri hari kebesaran AU Belanda di Den Haag.

“Kepala staf angkatan udara Belanda sampai menyalami bapak saat melihat bapak hadir di antara undangan,” kenang Julia bangga.

Kolonel (Pur) Petrus Getrudus Otto Noordraven wafat pada 15 Maret 2011 dalam usia 89 tahun karena sakit. Pemilik Hotel Putri Gunung di kawasan Lembang, Bandung ini dimakamkan secara militer di Taman Makam Karang Anyar, Bandung.

Menurut sang cucu, Pieter Noordraven, kakeknya PGO Noordraven berasal dari keturunan tentara. Buyut PGO Noordraven sendiri sudah menjadi tentara pada abad 19, yang dilanjutkan ayahnya menjadi tentara Belanda.

Suatu hari dalam sebuah pertemuan saya dengan Noordraven, kakek bertubuh tinggi ini menanyakan kepada saya perihal upacara-upacara hari besar di lingkungan TNI AU yang tidak pernah dihadirinya. Dengan setengah kaget saya bertanya, “Masak bapak tidak diundang?”

Itulah kenyataan yang dialami Noordraven. Keinginannya untuk melihat secara langsung kehebatan generasi penerus TNI AU itu tidak kunjung terlaksana hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Bandung.

Detail Isuzu Attack
Waktu: 6 April 1945
Target: cruiser Isuzu, 2 penyapu ranjau, 1 destroyer ringan
Tonase: 5.700
Posisi: 09.15 S / 120.40 E
Hasil: 2 kena tembak, 6 meleset, jelas rusak, intersepsi musuh
Kru: N5-226 Kapten Renaud
N5-239 Letnan Blaauw
N5-230 Ovl 3 de Vries
N5-209 Kapten Cooke
N5-228 Letnan Hagers
N5-173 Letnan Slats
N5-188 Letnan Noordraven
N5-245 Letnan Merkelbach
N5-184 Letnan Dijkstra
N5-242 Letnan de Neve
N5-243 Ovl 3 Berger

 

Teks: beny adrian

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply