Panglima TNI: Selama 270 Hari, Satgaskes TNI Akan Melayani Warga Asmat dengan Hati

0

Terbatasnya akses ke Kabupaten Asmat dan sekitarnya, membuat kejadian luar biasa (KLB) wabah penyakit campak dan gizi buruk yang diderita warga Asmat telat diketahui.

Presiden Joko Widodo yang mendapat laporan dan membaca artikel terkait kasus di Asmat melalui koran Kompas, langsung memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk mengirim tenaga kesehatan ke Asmat.

Menurut Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit dalam laporannya kepada Panglima TNI, Rabu malam (31/1/2018) di Timika, berdasarkan data terakhir sejak September 2017 hingga 31 Januari 2018, ditemukan sudah 71 orang meninggal dengan indikasi lima anak karena gizi buruk dan 66 orang terkena campak.

Panglima TNI disambut tim Satgaskes TNI KLB Asmat di Agats. Foto: beny adrian

Esok paginya, Panglima TNI dan rombongan meninjau langsung RSUD Agats tempat terjadinya KLB Asmat. “Telah puluhan anak meninggal dunia sehingga diperlukaan tindakan cepat,” ucap Marsekal Hadi.

“TNI membantu pemerintah daerah demi kemanusiaan. Kita terpanggil untuk mengatasi kesulitan KLB campak dan gizi buruk di Asmat,” ujar Pangdam.

Dijelaskan Mayjen Supit, KLB campak dan gizi buruk terjadi di wilayah Kodim 1707 di bawah Korem 174/ Anim Ti Waninggap (ATW).

“Karena itu Komandan Satgaskes adalah Danrem 174,” jelas Pangdam kepada Marsekal Hadi. Ada tiga Korem di Kodam XVII yaitu di Jayapura, Biak, dan Merauke.

“Nanti kalau sudah besar mau jadi tentara nggak,” tanya Panglima TNI kepada anak penderita gizi buruk. Foto: beny adrian

Bagi yang tidak memahami kondisi di lapangan, memang terkesan janggal kenapa kondisi di Asmat yang berada di bawah Kodim 1707 Merauke, tapi ditangani dari Timika.

Ternyata permasalahan transportasi menjadi kendala paling berat di lapangan. Asmat lebih dekat dijangkau dari Timika, karena ada penerbangan dari Timika ke Bandara Ewer di Asmat dengan lama penerbangan sekitar 40 menit.

Bandara yang saat air pasang naik di sore hari terendam ini memiliki panjang landasan 1.000 meter. Tak heran saat turun dari pesawat NC-212 TNI AL di Bandara Ewer, myesat.com merasakan landasan yang licin. Jika tidak hati-hati melangkah, rasanya bisa terpeleset.

Dari Ewer ke Agats bisa ditempuh menggunakan speedboat sekitar 15 menit. “Dari Merauke dengan kapal bisa lima hari perjalanan,”ujar Pangdam lagi.

Kabupaten Asmat dengan luas 29. 658 kilometer persegi membawahi 23 distrik dan 224 kampung. Jumlah penduduk mencapai 90322 jiwa, terdiri dari 45.585 laki-laki dan 44.731 perempuan.

Panglima TNI berdialog dengan seorang ibu yang menggendong anaknya mengalami gizi buruk. Foto: beny adrian

Sebelum Satgas Kesehatan TNI KLB Asmat tiba, Pangdam sudah mengirim tim kesehatan ke lokasi. Dari laporan diketahui bahwa baru 48 anak berhasil diberikan vaksin.

Setibanya Satgaskes TNI di Timika pada 16 Januari, langsung dilakukan koordinasi dan pembagian wilayah oleh Danrem 174 Brigjen TNI Asep Gunawan. Logistik mulai digeser menggunakkan speedboat, yang sebagiannya dititipkan ke kapal milik Pelni untuk dikirim ke Asmat dan Agats.

Pangdam juga sempat mencarter kapal kayu milik warga dikarenakan cukup banyaknya bantuan yang tiba dan terbatasnya kapal yang bisa digunakan.

Dalam rapat tanggal 18 Januari, tim dibagi ke dalam 9 kelompok dengan satu tim berada di RSUD di Agats dan delapan tim ke kampung-kampung. Setiap kelompok terdiri dari 9-10 anggota.

Di antara temuan di lapangan, di salah satu distrik yaitu Pantai Kasuari didapati tidak ada dokter di Puskesmas, hanya ada perawat. Dari RSUD Agats ke lokasi terjauh bisa ditempuh delapan jam perjalanan speedboat.

Barulah setelah tiga hari bekerja menyisir lokasi, evakuasi pertama pasien berhasil dilaksanakan pada 19 Januari 2018. Pasien dikirim ke RSUD Agats.

Menurut Pangdam kepada Panglima TNI, berdasarkan data terakhir per 31 Januari yang dihitung sejak Satgas masuk pada 16 Januari, sudah banyak perubahan di lapangan.

“Kampung yang terlayani tim kesehatan Pemda adalah 79 titik, dan sisanya 111 kampung didatangi oleh Satgaskes TNI,” kata Pangdam.

Dari paparan malam itu juga diketahui bahwa jumlah anak yang sudah mendapatkan vaksin adalah 13.337, dan diketahui bahwa yang terkena campak 647 jiwa, gizi buruk 220 anak, komplikasi campak dan gizi buruk 11 serta suspek campak 25 orang.

Panglima TNI menanyakan kepada sang kakek kondisi kesehatan cucunya. Foto: beny adrian

Sebaran lokasi terjangkau juga semakin luas, dari awalnya 48 kampung menjadi 150 kampung setelah Satgaskes TNI masuk. Jumlah anak yang mendapatkan vaksin juga sudah mencapai 8.082 dari awalnya baru 5.200-an.

“Untuk campak yang kita tangani 118 dari jumlah 647 kasus, sedangkan gizi buruk dari 220 kasus, yang kita tangani 211 kasus,” lapor Pangdam.

Seiring semakin banyaknya pemberitaan terkait situasi di Asmat ini, TNI pun mempercepat penanganan taktis situasi di lapangan. Seperti minggu lalu, TNI AD mengirimkan sebanyak 26 dokter muda yang masih menjalani pendidikan dasar kecabangan.

Sehingga sampai 31 Januari lalu, sudah 57 pasien yang sebelumnya dirawat, bisa kembali ke daerahnya.

Hanya saja karena akses komunikasi yang terbatas di 11 distrik, sampai saat ini Satgaskes TNI belum menerima laporan dari 27 kampung yang sudah berhasil dijangkau.

“Kami yakin mereka sudah tiba di lokasi, namun karena tidak ada sinyal, belum bisa memberikan laporan,” ucap Pangdam. Karena dari 23 distrik di Kabupaten Asmat, sebanyak 11 distrik belum memiliki akses komunikasi.

Dalam paparannya, Pangdam mengharapkan ada dukungan alat komunikasi berbasis satelit dan kapal untuk mempercepat pengiriman logistik dan personel.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku gembira mendapatkan laporan perkembangan situasi di lapangan yang begitu positif. Namun demikian, Panglima TNI berjanji akan mencarikan solusi alat komunikasi dengan pemasangan BTS solar cell. Baik dengan membangun stasiun bumi kecil oleh Satkomlek Mabes TNI, atau kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Paling cepat, Panglima TNI akan mendistribusikan alat komunikasi long range bertenaga solar cell yang akan dibawa pasukan.

Sedikit curhat soal komunikasi, Danrem 174 mengatakan bahwa jika ia memerintahkan Babinsa ke lokasi, mereka harus membuat janji akan berkomunikasi dua hari ke depannya. “Meski sulit, alhamdulillah selama ini selamat,” ujar Brigjen Asep.

Panglima TNI mengatakan, bahwa tentu tidak semua permasalahan bisa diselesaikan oleh TNI. Untuk itu Hadi mengatakan akan berkoordinasi dengan kementerian terkait.

“Baiklah untuk masalah kesehatan kita bisa kirim Satgas segera, tapi soal perumahan, komunikasi, pertanian, tentu akan dilakukan antar kementerian,” tutur Hadi yang meminta KSAU dan Wakil KSAL yang duduk di sampingnya, untuk segera menyiapkan dokter-dokter muda guna dikirim ke Asmat.

Panglima TNI tidak ingin kejadian di Pantai Kasuari dibiarkan terlalu lama. “Batch ketiga akan kita kirim tenaga medis dan di Pantai Kasuari akan kita dukung dengan dokter,” katanya.

Pada saat itu TNI juga sudah mengerahkan kapal perang KRI Hasan Basri-382. Esok paginya saat Panglima TNI mengunjungi Agats, KRI Hasan Basri terlihat sudah lego jangkar di Sungai Agats.

“Ini adalah masalah taktis, yaitu bagaimana kita mengobati, membuka komunikasi, dan memberikan vaksin kepada masyarakat sebanyak-banyaknya. Permasalahan strategisnya adalah bagaimana mereka tidak terjangkit lagi dan itu harus antar kementerian. Warga harus diberikan pendampingan baik untuk soal kesehatan, perumahan, pertanian, dan sebagainya,” jelas Panglima TNI kepada jajarannya.

Panglima TNI juga menegaskan, bahwa untuk personel akan dilakukan lintas ganti selama 270 hari selama periode 2018.

Malam itu juga Panglima TNI mendapatkan laporan bahwa ada sekitar 300 warga memasuki wilayah Lanal Merauke dan menetap di sana. Panglima TNI meminta kepada pihak Lanal untuk memfasilitasi sejauh kemampuan.

Papua surga kecil 

Saat berada di Agats, Panglima TNI di hadapan bupati, tokoh masyarakat, Kapolda Papua, dan awak media, mengatakan bahwa ia tidak lupa syair di dalam lagu Franky Sahilatua yang menyebutkan bahwa Papua itu seperti surga kecil yang jatuh dari langit.

“Kami datang untuk bekerja dengan hati, dengan kasih sayang, dan saya bersyukur mendapatkan laporan menggembirakan kondisi di lapangan dan hari ini saya tinjau langsung,” jelas Panglima TNI.

“Beritanya, penderita campak sebanyak 600 sudah bisa ditangani, artinya permasalahan campak sudah tidak ada lagi. Kedua, bahwa Satgas telah mampu merambah 224 kampung dan memberikan vaksin kepada 13.000 warga. Langkah berkutnya kita akan laksanakan pemantauan di 224 kampung, karena ada 27 kampung yang didatangi belum memberikan laporan meski diyakini sudah ada di sana,” beber Panglima TNI.

Untuk itu, Panglima TNI akan membantu memecahkan keterbatasan masalah transportasi dan komunikasi.

Lewat kunjungannya ini, Marsekal Hadi ingin memastikan bahwa Satgaskes bekerja maksimal. Sekaligus Hadi menyampaikan kepada warga bahwa TNI tidak ingin hanya memberikan bantuan di awal tapi tidak mengontrol kondisi pasca penanganan.

Lambaian tangan Panglima TNI dibalas spontan oleh si anak. Padahal awalnya ia tegang dan bahkan menangis saat digendong Panglima TNI. Foto: beny adrian

Untuk itu, jelas Hadi, TNI tidak mau hanya menyuntik terus selesai. “Kita akan pantau sampai masyarakat Asmat benar-benar merasakan dirinya sudah sehat.”

Selain itu, Hadi juga menegaskan bahwa kapal perang TNI AL sudah tiba di Agats. TNI juga akan segera membangun stasiun bumi kecil V-sat. “V-sat stasiun bumi kecil akan dibangun Satkomlek Mabes TNI,” tegas Hadi.

Sekali lagi Hadi menyampaikan, bahwa selama 270 hari, aset-aset yang dimiliki TNI akan ditempatkan di Asmat seperti KRI dan KAL untuk bisa menjangkau wilayah sekitarnya.

Hadi mengajak semua pihak untuk bekerjasama setulus-tulusnya dalam menyelesaikan persoalan di Asmat.

“Kita tidak usah mengharapkan yang lain-lain, biar yang lain-lain itu kita ambil di surga,” ulas Hadi yang ingin membuktikan bahwa Papua benar-benar surga kecil yang jatuh ke Bumi.

Mari kita dukung bersama pekerjaan mulia ini.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply