Diakui oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, pengangkatan dirinya sebagai warga kehormatan Korps Marinir TNI AL adalah sebuah penghargaan yang tinggi.
“Karena tidak semua perwira TNI akan mendapatkan kesempatan diangkat sebagai warga kehormatan Korps Marinir TNI AL,†ujar Marsekal Hadi.
Pengakuan ini disampaikan Marsekal Hadi kepada media usai menerima pembaretan sebagai warga kehormatan Korps Marinir dari Komandan Korps Marinir Mayjen TNI Bambang Suswantono di Pantai Ngantep, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (22/2/2018).
Tradisi pembaretan dilaksanakan di bibir Pantai Ngantep yang indah, tempat bagi setiap prajurit Marinir TNI AL menerima pembaretan pada malam hari ini usai menjalani pendidikan komando.

Panglima TNI usai diangkat sebagai warga kehormatan Marinir TNI AL. Foto: beny adrian
Untuk menuju lokasi pembaretan, Panglima TNI yang tiba di lokasi menggunakan helikopter EC-725 Caracal milik TNI AU, menggunakan ranpur LVTP-7. Di belakangnya mengikuti tiga tank BMP-3 dan satu unit LVTP-7.
Medan yang dilalui berupa kebun dan tanah basah, cukup menantang karena memberikan efek guncangan layaknya kita ikut mobil off road. Warga sekitar cukup antusias dengan melambaikan tangan saat Panglima TNI yang berdiri di posisi komandan kendaraan (Danran) melewati kampung mereka.
Terlihat juga deretan puluhan motor trail menyambut Panglima TNI saat melintasi sebuah jembatan.
Upacara pembaretan Panglima TNI dilaksanakan persis di Pantai Ngantep dengan deburan ombak Pantai Selatan yang cukup besar.
LVTP-7 yang membawa Panglima TNI dari helipad, langsung mengambil posisi di depan tenda podium dengan menghadap ke laut. Di hadapan Panglima TNI yang berdiri di atas LVTP-7, berbaris tegap prajurit Marinir TNI AL yang tiada henti dihantam ombak yang pecah di bibir pantai.
Baret ungu Marinir yang diserahkan kepada Panglima TNI ini, dibawa oleh dua penerjun Marinir dari Detasemen Jala Mangkara, yaitu Sertu Mar Sutopo dan Serda Mar Budi Sus.
Baret ini kemudian diserahkan kepada Panglima TNI untuk kemudian dikenakan sambil didampingi oleh Dankormar.
Usai upacara pembaretan, dilanjutkan dengan demonstrasi prajurit Marinir melaksanakan infiltrasi serbuan pantai menggunakan perahu karet.
“Saya yakin siapapun yang berada di sini dan melihatnya, akan tergetar naluri keprajuritannya,†ujar Panglima TNI.
Menurut Panglima TNI, Marinir adalah satuan yang selalu hadir dalam setiap tugas dan berhasil melaksanakannya dengan baik. Marinir telah berhasil menjaga kehormatan NKRI dalam setiap penugasan yang dijalankan.
Hadi mengakui, penghargaan ini tentu memberikan konsekuensi moril kepada dirinya selaku Panglima TNI, berupa tanggung jawab dan kewajiban untuk membangun dan meningkatkan kualitas Korps Marinir TNI AL agar menjadi lebih profesional, modern, dan tangguh.

Panglima TNI turun dari LVTP-7 usai menjalani upacara. Foto: beny adrian
“Ada pesan moral yang harus dilakukan, saya harus punya andil dalam pembangunan kekuatan Korps Marinir,†kata Marsekal Hadi.
Di hadapan prajurit Korps Marinir, Panglima TNI menyampaikan gambaran umum kondisi dunia dan Kawasan yang harus menjadi perhatian TNI karena bisa berpotensi ancaman terhadap Indonesia.
Tidak hanya masalah terorisme, namun juga perkembangan dunia digital yang melahirkan tantangan yang sangat komplek.
“Perkembangan teknologi digital tidak hanya memberikan kemudahan tapi juga memunculkan kerawanan dengan meluasnya sharing data dan informasi,†jelas Panglima TNI.
Kepada seluruh komandan satuan di lingkungan Marinir, Panglima TNI meminta untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk menjawab tantangan.
Kesejahteraan seluruh prajurit dan keluarganya, pun menjadi perhatian Panglima TNI.
“Prajurit yang sejahtera akan memiliki moril yang baik. Kesejahteraan tidak hanya terkait materi, tapi juga perhatian, penghargaan, kesehatan, dan pendidikan yang layak bagi putra-putri prajurit,†tutur Hadi.
Teks: beny adrian