Selanjutnya mereka berempat ditugasi membawa dua kapal selam dari Vladivostok menuju Surabaya. Perjalanan dalam Moskow menuju Vladivostok ditempuh selama sembilan hari menggunakan kereta api Trans Siberia.
Meski menempuh perjalanan lama, mereka menikmatinya karena saat itu musim panas, sehingga bisa melihat beragam pemandangan di sepanjang perjalanan melintasi Uni Soviet dari barat ke timur.
Ini merupakan pengalaman tersendiri karena saat itu, tidak banyak orang bisa melihat Soviet yang masih tertutup secara langsung.
Uniknya, di pedalaman Soviet yang jauh dari laut, orang membuat kapal-kapal besar. Kapal-kapal itu setelah selesai, mereka pindahkan ke laut melalui kanal-kanal buatan yang lebar mengalir dari utara ke selatan. Hal ini dilakukan mengingat Soviet tidak mempunyai banyak wilayah perairan yang bebas dari es.
“Tiba di Vladivostok, saya melihat begitu banyak kapal selam Soviet dari berbagai jenis. Mereka memang mengutamakan kapal selam sebagai kekuatan inti.â€
Dua komandan dan dua KKM itu langsung masuk ke kapal selam mereka masing-masing.
Tanpa menunggu waktu atau upacara, kedua kapal langsung berlayar keluar dari pangkalan Vladivostok.
Keesokan harinya mereka naik ke permukaan dan berdiri di anjungan. Tahu-tahu mereka sudah berada di tengah laut tanpa terlihat daratan.
Pada hari ketiga datang angin kencang dan ombak sangat besar di Laut China Selatan. Kapal selam yang satu lagi seakan berada di atas bukit sementara yang lain di dasar jurang, bergantian mengikuti irama gelombang. Kapal segera menyelam sampai kedalaman 90 meter, baru terasa tenang.
Diintai pesawat AS
Saat cuaca mulai membaik, setiap pagi terlihat pesawat Lockheed P-2 Neptune Angkatan Laut Amerika Serikat terbang mengitari dua kapal selam berbendera Uni Soviet ini.
Soal ini, Mabes AL (MBAL) pernah mendapat pertanyaan dari atase laut AS di Jakarta. Oleh MBAL dijawab bahwa mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka tidak tahu kapal selam miliki siapa yang dimaksud.
“Ternyata kemudian, pihak atase AL AS malah menyampaikan foto saya, yang duduk berdampingan dengan komandan Rusia di anjungan kapal, dan dipotret dari Neptune. Begitu ampuh teknologi pemantauan mereka,†ujar Poernomo.
Tepat di hari ke-9, kedua kapal tiba di Pelabuhan Ujung, Surabaya. Lalu pada 12 September 1959, kedua kapal selam diserahterimakan dari Soviet kepada Indonesia di Pangkalan ALRI Surabaya.
Tanggal 12 September 1959 kemudian ditetapkan sebagai Hari Kapal Selam Indonesia.
Kapal selam pertama RI Tjakra dengan komandan Mayor Laut RP Poernomo. Sementara kapal kedua RI Nanggala, komandannya Mayor Laut OP Koesno. Sejak saat itulah Indonesia memiliki dua kapal selam di dalam jajaran armada TNI AL.
Surabaya gempar dengan kedatangan kapal selam ini. Berhembus isu, Indonesia punya kapal selam tapi komandannya orang Rusia. Namun setelah diperkenalkan, mereka baru sadar ternyata komandannya orang Indonesia.
“Saya waktu itu kan hitam, besar dan tinggi. Jadi mereka mengira saya orang Rusia. Masak orang Rusia hitam,†canda Poernomo.

Dua hari kemudian dibentuklah organisasi komando jenis, yaitu type command dari Armada Angkatan Laut RI yang diberi nama Divisi Kapal Selam. Sebagai komandan Divisi Kasel ditunjuk Mayor Laut RP Poernomo merangkap komandan RI Tjakra.
Kedua kapal selam langsung melaksanakan operasi di nusantara. RI Tjakra bertugas ke Indonesia timur sementara RI Nanggala ke wilayah barat.
Kurang dari dua tahun, tepatnya 25 Maret 1961, Pemerintah kembali mengirim empat unit calon awak kapal selam, dalam rangka menerima tambahan 4 kapal selam lagi. Mereka dilatih di Vladivostok. Kesatuan ini dibawah pimpinan Mayor Laut AT Wignyoprayitno.
Tabah sampai akhir
Dengan tambahan empat kapal selam, maka pada 29 Januari 1962, armada kapal selam Indonesia mencapai enam unit tipe Whiskey-class. Ditambah sebuah kapal tender RI Ratulangi sebagai kapal induknya.
Organisasi Divisi Kapal Selam ditingkatkan menjadi Komando Jenis Kapal Selam (Kojenkasel). Pembangunan fasilitas darat ditingkatkan sehingga mampu memberikan dukungan optimal terhadap satuan operasi.
Termasuk di antaranya memikirkan motto Korps Kapal Selam. Melalui sayembara, Poernomo memenangkan lomba motto yang berbunyi “Tabah Sampai Akhirâ€.
Sejak 15 Desember 1962, ALRI telah diperkuat 12 kapal selam Whiskey-class dengan dua kapal tender RI Ratulangi dan RI Thamrin.
Melalui perannya dalam Operasi Trikora, seluruhnya sebanyak 61 awak kapal selam RI Tjandrasa mendapat penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno.
Daftar Kapal Selam ALRI
- RI Tjakra 401
- RI Nanggala 402
- RI Nagabanda 403
- RI Trisula 404
- RI Nagarangsang 405
- RI Tjandrasa 406
- RI Alugoro 407
- RI Tjudamani 408
- RI Widjayadanu 409
- RI Pasopati 410
- RI Hendradjala 411
- RI Bramastra 412
Teks: beny adrian