MYLESAT.COM – Minggu 7 Desember 2025, bertepatan dengan saat yang sama 50 tahun silam ketika ribuan prajurit TNI memulai serbuan udara dan laut di Timor Lorosae pada 7 Desember 1975. Operasi Seroja pun ditabuh.
Baca Juga:
Apakah 265 Orang Berani Menyerang Dili? 43 Tahun Operasi Seroja dalam Kenangan Letjen (Pur) Soegito
Lima puluh tahun setelah Operasi Seroja berlangsung pada 7 Desember 1975, kita mengenang sebuah babak sejarah yang tidak hanya berbicara tentang keberanian prajurit TNI akan tetapi juga tentang luka, kegetiran, kehilangan, dan perjalanan panjang sebuah rekonsiliasi.
Momen ini mengingatkan kita bahwa peperangan selalu meninggalkan kepedihan bagi semua pihak. Karena itu, sebagai bangsa, kita belajar untuk memandang sejarah dengan hati yang jernih. Menghormati para prajurit yang mengemban tugas negara, sekaligus membuka ruang empati bagi mereka yang merasakan dampaknya.
Dari masa lalu yang berat itu, kita memilih untuk melangkah maju dengan semangat persaudaraan dan perdamaian. Saat ini, Timor Leste sudah menjadi negara tetangga yang baik terbukti dari beberapa kali kunjungan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao ke Jakarta dan keakrabannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Operasi Seroja diawali dengan penerjunan prajurit Nanggala V dari Kopassandha yang diterjunkan di Kota Dili sebanyak 263 orang. Dalam rapat terbatas di kawasan Tebet pada 5 Desember 1975, Benny Moerdani menanyakan singkat kepada Letkol inf Soegito, Komandan Grup 1 Kopassandha. “Apakah kamu dengan 265 orang berani menyerang Dili lewat operasi lintas udara?” Soegito menjawab singkat dan tegas. “Pak, saya siap melaksanakan perintah.”
Pasukan ini kemudian diterjunkan di Dili menggunakan delapan pesawat C-130 Hercules TNI AU. Pada waktu yang hampir bersamaan juga dilakukan pedaratan pasukan Marinir. Dua hari kemudian disusul penerjunan di Baucau.
Jauh hari sebelum Operasi Seroja dimulai, sudah digelar sejumlah operasi intelijen. Seperti Operasi Komodo dan Operasi Flamboyan. Unsur intelijen ini bertugas menyiapkan informasi lapangan dan mendukung pendaratan gelombang utama.
Di tengah duka mendaalm karena bencana alam yang masih menyelimuti negeri, kita layak menundukkan kepala sejenak untuk para prajurit yang gugur dalam Operasi Seroja. Mereka mengajarkan bahwa cinta tanah air sering kali menuntut keberanian yang tidak biasa. Hari ini kita berdiri, bukan hanya untuk mengenang akan tetapi untuk memastikan bahwa pengorbanan mereka tetap menjadi pelita bagi masa depan bangsa.