Kisah Operasi SAR Helikopter Puma HT-3307 TNI AU: Terjebak Kabut Sentani

Karena kondisi cuaca yang sering berubah dan sangat sulit diprediksi, variasi magnet yang cukup tinggi membuat sudut arah yang diplot di peta tidak akan sama dengan standby compass di pesawat.

Demikian pula kondisi sarana prasarana dukungan operasi penerbangan yang sangat terbatas, maka medan di pedalaman Irian Jaya sangat cocok bagi para pilot yang menyukai tantangan.

Sudah lebih dari satu minggu Komandan Lanud Jayapura Letkol Pnb Djoko Suyanto (mantan Menko Polhukham) tidak berada di Sentani karena sedang bertugas ke Jakarta.

Tiga hari yang lalu ia sempat telepon ke penulis yang waktu itu menjabat Kepala Dinas Operasi untuk menanyakan situasi dan kondisi kantor. Diakhir pembicaraan, ia menyampaikan bahwa sebelum kembali ke Jayapura, akan mampir dulu ke Madiun.

Saat itu di Lanud Jayapura disiagakan dua helikopter TNI AU guna mendukung tugas operasi Kodam VIII Trikora.

Dalam persiapan Hari Infanteri ke 47, pada sore hari 13 Desember 1992, via sentral komunikasi Lanud, penulis menerima telegram dari Kodam VIII. Isinya permintaan heli untuk mendukung kegiatan Panglima Kodam VIII Mayjen TNI E.E. Mangindaan (mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi).

Rencananya besoknya Panglima akan menjadi inspektur upacara pada pembukaan gerak jalan peleton beranting Yudha Wastu Pramuka di Desa Demta.

Sehubungan hal tersebut, penulis memerintahkan staf Lanud untuk membuat Surat Perintah Terbang (SPT) heli SA-330 Puma HT-3307.

Krunya terdiri dari pilot Kapten Pnb Dwi Djatmiko SB (AAU 82), kopilot Lettu Pnb Bagaskoro (AAU 88), JMU Serka Subari, dan pembantu JMU Sertu Dede Hartadi.

Foto korban diambil sehari sebelum kejadian (14 Desember 1992). Dari kiri-kanan: Serka Subari, Lettu Pnb Bagaskoro, Sertu Dede Harta. Foto: Sujendro

Setelah SPT selesai, penulis memerintahkan kurir Lanud mengantarkannya ke mess kru heli di jalan Yabaso Sentani.

Keesokan harinya 14 Desember 1992, saat HT-3307 lepas landas dari hangar Lanud untuk menjemput Panglima di Markas Kodam (Makodam), penulis yang waktu itu mewakili komandan Lanud, ikut onboard. Setelah mendarat di helipad Makodam, Kapten Djatmiko segera mematikan mesin dan menunggu kedatangan Panglima.

Setelah Panglima dan rombongan masuk heli, Kapten Djatmiko take off menuju arah barat (Desa Demta) yang lokasinya berada di sisi barat Pegunungan Cyclops.

Setelah kegiatan Pangdam di Demta selesai, heli kembali mengantarkan Panglima ke Makodam. Setelah Panglima dan rombongan turun, heli kembali ke hangar Lanud.

1 2 3 4 5 6Next page

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: