Kisah Operasi SAR Helikopter Puma HT-3307 TNI AU: Terjebak Kabut Sentani

0

Masuk tail bome

Beberapa saat kemudian, di sekitar heli berhamburan potongan-potongan main rotor blade, kayu ranting, maupun dedaunan. Tak lama kemudian, tiba-tiba kokpit menjadi sangat gelap dipenuhi asap tebal disertai bau menyengat dari terbakarnya oli hidrolik oleh panasnya mesin yang masih hidup.

Keadaan heli sudah berhenti dengan posisi hidung mendongak ke atas dan tail bome nyangkut di batu di lereng bukit.

Lettu Tobing masih terikat safety belt di kursi kokpit. Sangat khawatir mesin heli bakal meledak, ia segera mematikan ignition dan booster.

Kemudian berteriak ke Lettu Bagaskoro yang masih duduk di sebelahnya dan ia kira masih hidup, untuk segera keluar dari kokpit.

Dengan terburu-buru ia melepas safety belt dan kemudian membuka pintu kokpit. Tanpa mengindahkan permukaan tanah di bawahnya, ia meloncat. Tiba-tiba saja kaki dan badannya sudah menghantam bebatuan dan semak-belukar di lereng bukit.

Ketika kakinya menyentuh permukaan bebatuan yang tidak rata, Lettu Tobing langsung kehilangan keseimbangan dan badannya jatuh berguling ke bawah. Menyadari bahaya di depannya apabila tetap berguling, ia segera meraih apa saja. Sebuah ranting berhasil ia raih, hingga badannya bisa tertahan dan berhenti dari kondisi berguling.

Kemudian dengan tergesa-gesa ia merayap ke sebuah pangkal pohon untuk berlindung dari kemungkinan meledaknya mesin.

Beberapa saat menunggu, ternyata asap tebal di sekitar kokpit semakin menghilang dan ledakan yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Dengan sedikit ragu-ragu Lettu Tobing berusaha bangkit dari balik pohon.

Dengan cara merangkak, ia berusaha naik ke depan hidung heli untuk mencari dan membantu ketiga anak buahnya yang kemungkinan masih terperangkap di dalam heli.

Ketika merangkak itulah ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengalami banyak luka di beberapa bagian tubuh. Di depan heli ia memanggil-manggil ketiga anak buahnya.

Tiba-tiba dari dalam kabin terdengar sahutan dari JMU Sertu Amang Rosadi yang menyatakan bahwa dirinya sehat walafiat dan tidak mengalami luka sedikitpun. Namun katanya, JMU Serka Lutfi terjepit di dalam tail bome dengan posisi kepala di bawah dan sebagian badannya masih berada di dalam tail bome.

Setelah itu ia berkali-kali memanggil kopilotnya Lettu Bagaskoro, tapi tidak ada jawaban.

Lettu Tobing menduga kopilotnya sudah meninggal. Heli saat itu dalam kondisi  60 derajat nose up dan tergantung di salah satu dahan pohon. Tail bome hanya tertahan pada sebuah batu di lereng bukit. Kondisi ini sangat rawan dan mudah terguling.

Karena itu Lettu Tobing tidak berani masuk kokpit untuk mengeluarkan kopilotnya. Kemudian ia merencanakan akan membantu mengeluarkan Serka Lutfi yang waktu itu masih selamat tapi kondisinya terjepit di dalam tail bome dengan posisi kepala dibawah.

Ia berteriak memerintahkan Sertu Amang yang masih di dalam kabin untuk mengambilkan kampak dan kotak PPPK.

Tidak begitu lama, Sertu Amang keluar dan sambil membawa kampak dan kotak PPPK. Dengan dibantu Sertu Amang, Lettu Tobing mengampak tail bome sampai putus sehingga Serka Lutfi dapat dikeluarkan dengan selamat. Setelah Serka Lutfi dikeluarkan, Lettu Tobing mengobati luka-luka goresan di kepalanya.

Operasi pencarian

Setelah selesai mengobati Serka Lutfi, Lettu Tobing segera memerintahkan Sertu Amang mengambil pistol sinyal di kabin yang bentuknya seperti sebatang dinamit. Lettu Tobing berencana memanfaatkan sinyal asap yang jumlahnya hanya sebuah itu secara optimal dan tidak boleh gagal.

Kemudian bersama kedua anak buahnya segera naik ke punggung bukit dan mencari tempat terbuka. Setelah menemukan, mereka bersiap di tempat itu.

Lettu Tobing sangat berharap sinyal asap itu masih menyala ketika dicabut pinnya sehingga asapnya dapat segera dapat dilihat oleh pilot pesawat pencari yang melintas.

Di tower Bandara Sentani ketika itu, Kapten Pnb Dwi Djatmiko tengah memonitor penerbangan heli naas ini. Ketika sampai pukul 10.00 waktu perkiraan HT-3307 mestinya tiba di Sentani, Lettu Tobing tidak kunjung calling tower, Kapten Djatmiko mulai curiga.

Penulis (paling depan) bersama rekan penerbang heli TNI AU. Foto: Sujendro

Di dalam batinnya berkata, jangan-jangan? Lagi pula tidak biasanya Lettu Tobing seperti ini.

Setelah dipanggil berkali-kali dan ditunggu selama 15 menit tapi tetap tidak ada jawaban, Kapten Djatmiko segera menghubungi perwira tekniknya guna mempersiapkan heli HT-3314 yang standby di hanggar Lanud untuk SAR.

Ia perintahkan agar main tank, external tank, dan ferry tank diisi penuh sehingga endurance menjadi sekitar 4,5 jam. Setelah itu Kapten Djatmiko menggunakan telepon tower menghubungi penulis yang berada di kantor Lanud untuk melaporkan situasi saat itu dan meminta izin melakukan pencarian terhadap heli HT-3307.

Penulis langsung mengizinkan pencarian menggunakan heli HT-3314. Setelah itu menggunakan radio HT, penulis langsung memerintahkan Paskhas yang waktu itu sedang penugasan di Lanud Jayapura dan tim SAR dari Lanud Jayapura untuk segera bersiap dan merapat ke hanggar.

Karena Komandan Lanud Letkol Djoko Suyanto tidak di tempat dan penulis tidak tahu posisinya karena saat itu belum ada handphone, penulis langsung telepon Komandan Lanud Atang Senjaya, Kolonel Pnb Roekmo Soesetyasto (AAU 71).

Penulis melaporkan tentang hilangnya HT-3307 dari Skadron Udara 8, Lanud Atang Senjaya. Selanjutnya penulis bergegas menuju hangar Lanud untuk membantu pencarian.

Setelah HT-3314 siap, Kapten Djatmiko melakukan persiapan. Dengan dua anggota Paskhas onboard, heli lepas landas dari apron hanggar Lanud menuju Desa Elelim.

Beberapa saat setelah heli penolong meninggalkan Sentani, Lettu Tobing yang waktu itu sedang standby di punggung bukit mendengar suara gemuruh heli Puma. Tidak begitu lama ia melihat sebuah heli pencari terbang melintas dari arah utara menuju ke selatan.

Karena lintasan yang dilalui agak jauh dari posisinya maka ia tidak mencabut pin sinyal asapnya. Setelah ditunggu di punggung bukit sekitar tiga jam, akhirnya heli pencari itu datang lagi dari arah selatan.

Siluet heli penolong itu terlihat semakin membesar dan mengarah ke posisinya. Karena itu Lettu Tobing segera mencabut pin. Tiba-tiba tersemburlah asap berwarna oranye yang menyebar ke atas dan sekitarnya.

Karena tiba-tiba melihat asap berwarna oranye di tengah rimbunnya pepohonan hutan, Kapten Djatmiko dapat langsung memastikan bahwa mereka adalah survivor yang dicari. Tanpa perlu waktu lagi ia langsung mengarahkan heli ke arah sumber asap itu.

1 2 3 4 5 6
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply