MYLESAT.COM – Inilah surganya bagi pemerhati perang dan sejarah khususnya Perang Pasifik di Indonesia.
Ya, Pulau Biak yang menjadi wilayah administrasi Kabupaten Biak Numfor, Papua ini menyimpan segudang bukti kekejaman perang. Ketika nyawa tidak berarti, lenyap dalam sekedipan mata oleh terjangan timah panas.
Salah satunya adalah gua dan beberapa lubang besar yang dipercaya bekas ledakan bom.
Adalah Abyab Binsari alias Gua Nenek yang sangat terkenal. Menurut pemandu Mando Rumaropen, disebut Gua Nenek karena dipercaya dulu ada seorang nenek yang mendiami gua ini. “Sekarang sudah tidak ada, begitu perang nenek menghilang,” ujar Mando.
Mando ternyata bukan pemandu wisata sembarangan. Ia anggota Paskhas TNI AU dengan pangkat prajurit kepala (Praka).
Bapaknya Yusuf Rumaropen merupakan kepala kampung di Kampung Wisata Gua Jepang, Kecamatan Samopa, Biak.
“Bapak saya kepala kampung,” akunya senyum. Menurut Mando, bapaknya mengelola situs Gua Nenek secara mandiri selama puluhan tahun agar terhindar dari perusakan.
Komandan Lanud Manuhua, Biak, Marsma TNI Fajar Adriyanto juga memastikan bahwa tour guide kami adalah anggota Paskhas.
Kepada mylesat.com, Mando mengaku bahwa Kampung Wisata Gua Jepang atau Desa Wisata Binsari yang memiliki luas 2.000 hektar itu dikelola oleh orang tuanya.
Putra biak ini menjadi prajurit Paskhas sejak 2010. Ia sempat ditempatkan di Batalyon Komando Pakshas di Jawa sebelum pindah ke Yonko 468 Paskhas di Biak.
Sebagai pemandu wisata, Mando fasih menjelaskan kondisi gua saat perang. “Serangan Amerika pada 7 Juni 1944 mengakibatkan muncul lubang besar di gua,†jelasnya.
Untuk sampai di mulut gua, kita harus berjalan sekitar 100 meter melewati pepohonan yang rimbun dan hutan yang lembab. Hati-hati saat berjalan, karena konblok nyaris tertutup lumut sehingga cukup licin.
Dijelaskan Mando, tentara AS tahu gua ini digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang. “Amerika jatuhkan drum berisi bensin dan dibakar, sekitar 3.000 tentara Jepang tewas di sini.
“Setiap tahun ada ziarah dari warga Jepang, mereka ibadah di sini,” ungkap Mando.
Gua alam memang menjadi tempat persembunyian yang aman bagi Jepang. Oleh Jepang kemudian dibuat jalan tembus (pelolosan) menuju pantai di Kampung Paray sepanjang 6 kilometer.
Sehingga dalam keadaan terdesak, Jepang bisa melarikan diri melalui lorong ini untuk mencapai pantai.
Di Pantai Paray sekarang didirikan Monumen Perang Dunia II sebagai pengingat umat manusia akan kekejaman perang.
Menurut Mando yang lahir di Biak tahun 1990, ledakan bom Sekutu mengakibatkan munculnya lubang baru yang menambah luas gua ini.
Diperkirakan sudah ratusan kerangka tentara Jepang ditemukan di dalam Gua Nenek sejak upaya pencarian dimulai tahun 1999.
Sebagai bukti gua ini pernah dihuni tentara, di dalamnya masih tersisa enam drum bahan bakar. Drum ini dipenuhi lubang bekas tembakan.
Satu di antaranya berukuran lebih besar, yang sepertinya dijadikan bom bakar. Dimasukkan ke dalam gua dan kemudian dibakar atau diledakkan.
Masih menurut Mando, Gua Nenek dikelola orang tuanya secara pribadi.
“Saya anak pertama, bapak ingin saya melanjutkan kelola situs ini,” ungkap Mando.
Teks: beny adrian